Jumat, 09 Juli 2021

Laporan baca 3

 4 kompetensi guru profesional

Kompetensi guru dapat diartikan sebagai kebulatan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang ditampilkan dalam bentuk perilaku cerdas dan penuhtanggung jawab yang dimiliki seorang guru dalam menjalankan profesinya. jelas bahwa seorang guru dituntut memiliki kompetensi atau kemampuan dalam ilmu yang dimilikinya, kemampuan penguasaan mata pelajaran, kemampuan berinteraksisosial baik dengan sesama peserta didik maupun dengan sesama guru dan kepala sekolah, bahkan dengan masyarakat luas. Kompetensi guru adalah seperangkat penguasaan kemampuan yang harus ada dalam diri guru agar dapat mewujudkan kinerjanya secara tepat dan efektif. Karena seorang guru tidak hanya terampil dalam mengajar tentu juga harus memiliki pribadiyang baik dan mampu melakukan social adjustment dalam masyarakat. (Feralys Novauli, 2015 : 46). Kompetensi merupakan komponen utama dari standar profesi di samping kode etik sebagai regulasi perilaku profesi yang ditetapkan dalam prosedur dan sistem pengawasan tertentu. Kompetensi diartikan mdan dimaknai sebagai perangkat perilaku  efektif yang terkait dengan eksplorasi dan  investigasi, menganalisis dan memikirkan, serta memberikan perhatian, dan mempersepsi yang mengarahkan seseorang menemukan cara-cara untuk mencapai tujuan tertentu secara efektif dan efisien. Kompetensi bukanlah suatu titik akhir dari suatu upaya melainkan suatu proses yang berkembang dan belajar sepanjang hayat (life long learning process). Kompetensi guru merupakan perpaduan antara kemampuan personal, keilmuan, teknologi, sosial dan spritual yang secara kaffah membentuk kompetensi standar kompetensi guru, yang mencakup penguasaan materi, pemahaman terhadap peserta didik pembelajaran yang mendidik, pengembangan pribadi dan profesionalisme. Penguasaan materi meliputi pemahaman karakteristik dan substansi ilmu sumber bahan pembelajaran, pemahaman disiplin ilmu yang bersangkutan dalam konteks yang lebih luas, penggunaan metodelogi ilmu yang bersangkutan untuk memverifikasi dan memantapkan pemahaman konsep yang dipelajari, penyesuaian substansi dengan tuntutan dan ruang gerak kurikuler, serta pemahaman manajemen pembelajaran. (Reksa Setiawan, 2015 : 132).

Empat kompetensi guru menurutSyaiful Sagala (2009 : 39-41) :

1. Kompetensi Pedagogik, merupakan kemampuan dalam pengelolaan peserta didik meliputi a) pemahaman wawasan guru akan landasan dan filsafat pendidikan, b) guru memahami potensi dan keberagaman peserta didik, c) guru mampu mengembangkan kurikulum/silabus baik dalam bentuk dokumen maupun implementasi dalam bentuk pengalaman belajar, d) guru mampu menyusun rencana dan strategi pembelajaran berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar, e) mampu melaksanakan pembelajaranyang mendidik dengan suasana dialogis dan interaktif, f) mampu 

melakukan evaluasi hasil belajar  dengan memenuhi prosedur dan standar yang dipersyaratkan, dan g) mampu mengembangkan bakat dan minat peserta didik melalui kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

2. Kompetensi Kepribadian, dilihat dari aspek psikologis kompetensi kepribadian guru menunjukkan kemampuan personal yang  mencerminkan kepribadian a) mantap dan stabil yaitu memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai norma hukum, norma sosial, dan etika yang berlaku, b) dewasa yang berarti mempunyai kemandirian untuk bertindak sebagai pendidik dan memiliki etos kerja sebagai guru, c) arif dan bijaksana yaitu tampilannya bermanfaat bagi peserta peserta didik, sekolah, dan masyarakat dengan menunjukkan keterbukaan dalam berfikir dan bertindak, d) berwibawa yaitu perilaku guru yang disegani sehingga berpengaruh positif terhadap peserta didik, dan e) memiliki akhlak mulia dan memiliki perilaku yang dapatditeladani oleh peserta didik,  bertindak sesuai norma religius, jujur, ikhlas, dan suka menolong.

3. Kompetensi Sosial, artinya  kompetensi sosial terkait dengan kemampuan guru sebagai makhluk sosial dalam berinteraksi dengan orang lain. Sebagai makhluk sosial, guru berperilaku santun, mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungan secara efektif dan menarik mempunyai rasa empati terhadap orang lain. Kemampuan guru berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan menarik dengan peserta didik, sesama pendidik dan tenaga kependidikan, orang tua dan wali peserta didik, masyarakat sekitar sekolah dan sekitar dimana pendidik itu tinggal, dan dengan pihak-pihak berkepentingan dengan sekolah.

4. Kompetensi Profesional, mengacu pada perbuatan (performance) yang bersifat rasional dan memenuhi spesifikasi tertentu dalam melaksanakan tugas-tugas kependidikan. Mengenai perangkat kompetensi profesional biasanya dibedakan profil kompetensi yaitu mengacu kepada berbagai aspek kompetensi yang dimiliki seorang tenaga profesional pendidikan dan spektrum kompetensi yaitu mengacu kepada variasi kualitatif dan kuantitatif. Tanpa kompetensi, guru bak nahkoda  di tengah samudra minus keahlian memadai, sementara di depannya ombak tinggi siap menggulung kapal. Sudah pasti nahkoda yang minus keahlian itu tidak bisa berbuat apa-apa, sementara kapalnya tenggelam tersapu ombak ke dasar samudera. (Agus Wibowo & Hamrin, 2012 : 102)

Kompetensi guru adalah salah satu faktor yang mempengaruhi tercapainya  tujuan pembelajaran dan pendidikan di sekolah, namun kompetensi guru tidak berdiri sendiri, tetapi dipengaruhi oleh faktor latar belakang pendidikan, pengalaman mengajar, dan lamanya mengajar. (Agus Wibowo & Hamrin, 2012 : 107)


Minggu, 18 April 2021

Laporan Baca 2

 Nama: Sulastri

Nim: 11901285

Kelas: 4D/PAI

“Manajemen Sekolah”

 Manajemen sekolah adalah suatu usaha yang dilakukan secara bersama-sama untuk mencapai tujuan belajar-mengajar yang optimal.

Manajemen ialah ilmu yang berhubungan dengan waktu. Itu artinya segala usaha atau sebuah pekerjaan memiliki keringkasan dalam mengatur waktu agar efisien dan terstruktur. Dalam sekolah tentunya, memiliki usaha untuk memanajemen dalam sebuah pekerjaan tersebut.  Dengan demikian terdapat beberapa faktor manajemen sekolah, yaitu:

1. Faktor fungsi pokok manajemen sekolah

Manajemen sekolah perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan minat peserta didik, guru-guru serta masyarakat setempat, untuk itu perlu dipahami fungsi-fungsi pokok manajemen, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pembinaan.

Dalam hal ini,  agent-agent yang diatas tentu memiliki peran dalam melaksanakan manajemen sekolah tersebut. hal ini dikarenakan, jika agent-agent tersebut bisa bekerjasama maka manajemen sekolah akan terorganisir dengan baik. Dalam manajemen sekolah, terdapat beberapa fungsi yang akan menjadi icon dalam proses manajemen yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pembinaan. Fungsi tersebutlah menjadi tujuan dari manajemen sekolah agar tercapainya tujuan.

Dari keempat fungsi diatas, dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Perencanaan program, mempunyai 2 fungsi utama yaitu untuk menyusun segala rangkaian tindakan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan lembaga agar dapat mempertimbakan sumber yang tersedia.

b. Pelaksanaan, sebuah usaha atau kegiatan untuk merealisasikan rencana menjadi tindakan agar tidak menjadi wacana belaka, tindakaan nyata ini akan menjadi awal dari manajemen sekolah tersebut.

c. Pengawasan, fungsi ini dapat dikatakan sebagai bentuk upaya untuk mengamati secara sistematis dan secara terus menerus, merekam, memberi penjelasan serta petunjuk untuk meluruskan suatu hal yang ingin dicapai nantinya.

d. Pembinaan, rangkaian upaya pengendalian secara profesional semua unsur organisasi agar berfungsi sebagaimana mestinya.  Hal ini diarenakan dalam manajemen sekolah tentunya harus memiliki pembinaan, upaya ini dilakukan agar seluruh organisai yang terkait dalam hal ini akan berjalan dengan baik dan rencana yang ini dicapai akan terlaksanakan secara efektif.


Dalam proses manajemen sekolah, terdapat agent yang menjadi peran dalam hal ini yaitu kepala sekolah, guru dan tenaga administrasi yang harus memiliki sifat yang profesional dan pandap dalam memanajemen. Tujuan dengan hadirnya mereka adalah untuk mencari tau serta memiliki pengetahuan yang dalam tentang kehidupan peserta didiknya dan prinsip-prinsip pendidikan untuk menjamin bahwa segala keputusan yang dibuat oleh sekolah benar-benar mempertimbangkan pendidikan.

Kepala sekolah disini, harus dan sangat perlu untuk mempelajari dengan sangat teliti. Terdapat beberapa kebijakan dan prioritas pemerintah maupun sekolah dalam manajemen sekolah ini. Agar kebijakan dan prioritas tersebut dalat berjalan dengan baik, kepala sekolah harus memiliki kepentingan untuk itu. Dalam tulisan ini terdapat beberapa kepentingan atau peran kepala sekolah, yaitu sebagai berikut:

a. Memiliki kemampuan untuk bekerjasama dengan guru dan masyarakat sekitar  sekolah. Dalam point ini, kepala sekolah harus benar-benar bisa bekerja sama dalam hal ini dengan guru dan masyarakat. hal ini dikarenakan,  agar tujuan itu bisa dicapai dengan memuaskan. Maka, bekerjasama adalah salah satu kuncinya.

b. Memiliki pemahaman dan wawasan yang luas tentang teori pendidikan dan pembelajaran. Nah, dalam point ini, selain memiliki sikap untuk selalu bergotongroyong. Kepala sekolah juga harus menguasai segala teori yang ada dalam pendidikan itu serta pembelajaran. Hal ini dikarenakan, peran kepala sekolah itu menyeluruh. Maka dari itu, perlunya sebuah kecerdasan dalam memanajemen sekolah.

c. Memiliki kemampuan dan keterampilan untuk menganalisis situasi. Point ketiga ini mengarahkan, agar kepala sekolah bisa memprediksikan apa yang akan terjadi dimasa depan dengan menggunakan tolak ukur situasi sekarang.

d. Memiliki kemauan dan kemampuan untuk mengidentifikasikan  masalah dan bekutuhan yang  berbentuk efektivitas pendidikan di sekolah. 

e. Mampu memanfaatkan berbagai tantangan dan halang rintangan pendidikan sebagai peluang untuk membuat suatu ide-ide yang baru. 


Pemahaman terhadap sifat profesional dan manajerial tersebut sangat diperlukan, guna untuk meningkatkan mutu sekolah dan mensupervisikan perencanaan yang ada di sekolah agar apa yang direncanakan oleh sekolah dapat tercapai dengan sesuai.

Dengan adanya manajemen sekolah, sekolah tersebut mampu untuk menempuh pemberdayaan dalam rangka meningkatkan mutu dan kemandirian sekolah. Kepala sekolah, guru dan tenaga lainnya disekolah serta masyarakat harus bekerjasama dalam melaksanakan pendidikan sesuai dengan kebutuhan, itulah harapan dari manajemen sekolah agar apa yang telah diberikan kepada agent-agent diatas bisa dilaksanakan.

Dalam dunia pendidikan, pemberdayaan merupakan cara yang sangat  praktis untuk medapatkan hasil yang baik dari kepala sekolah yang merupakan sebagai penggerak atau manejer, guru dan tenaga lainnya.  Agar mendapatkan hasil yang baik, tentu harus menjalani proses yang akan dilaksanakan. Salah satu proses untuk mendapatkan hasil yang terbaik adalah dengan membagi tanggung jawab dengan profesional kepada para guru. Untuk pemberdayaan inilah, agar sekolah tersebut memiliki sebuah usaha dalam mencapai tujuan pendidikan dengan efektif dan efisien. Maka dari itu, kepala sekolah sebagai pengarah harus benar-benar memanfaatkan waktu untuk memperhatikan kinerja anak buah(guru). Salah satu pemberdayaannya adalah guru terlibat dalam proses pengambilan keputusan dan tanggung jawab. Hal ini direnakan, agar terlihat sikap bekerjasamanya dalam memajukan tujuan sekolah.

Pemberdayaan dalam manajeman sekolah bertujuan untuk memperbaiki tujuan secara optimal.

Dalam proses pemberdayaan, terdapat beberapa tahap, yaitu sebagai berikut:

a) Masyarakat mengembangkan sebuah kesadaran awal bahwa mereka dapat melakukan tindakan untuk meningkatkan kehidupannya dan memperoleh seperangkat keterampilan agar mampu bekerja lebih baik. 

b) Mereka akan mengalami pengurangan perasaan ketidakmampuan dan mengalami peningkatan kepercayaan diri.

Terdapat  8 langkah tahapan dalam pemberdayaan yang berkaitan dengan manajemen sekolah, yaitu sebagai berikut:

1. Menyusun kelompok guru sebagai penerima awal atas rencana program pemberdayaan.

2. Mengidentifikasi dan membangun peserta didik disekolah.

3. Memilih dan melatih guru dan tokoh masyarakat yang terlibat secara dalam implementasi manajemen sekolah.

4. Membentuk dewan sekolah, yang terdiri dari unsur sekolah, unsur masyarakat dibawah pengawasan pemerintah daerah.

5. Melenggarakan pertemuan-pertemuan anggota dewan sekolah.

6. Mendukung aktivitas kelompok yang tengah berjalan.

7. Mengembangkan hubungan yang harmonis antara sekolah dan masyarakat.

8. Menyelenggarakan loka-karya untuk evaluasi.

Dalam materi manajemen sekolah ini, dapat disimpulkan bahwa tujuan dari manajemen sekolah adalah untuk mengatur sekolah secara efisien dan efektif melalui peran kepala sekolah, guru dan tenaga lainnya, akan tetapi masyarakat juga memiliki peran atau pengaruh dalam manajemen sekolah ini. masyarakat akan mendapatkan sebuah tugas untuk memberikan arahan kepada pendidikan anaknya. Hal ini kerenakan, sekolah pertama adalah orang tua. Tugas dan peran orang tua atau masyarakat bahwa ia memiliki amanah untuk membimbing anak-anaknya agar dapat menempuh pendidikan dan bisa mendukung sekolah dalam menempuh tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan. Pendukung dalam memanajemen sekolah adalah para peserta didik. Jika peserta didik bisa diatur dan taat terhadap tata tertib, maka itu merupakan salah satu upaya untuk mendukung kepala sekolah dalam memanajemenkan sekolah.

Daftar pustaka

https://juraganberdesa.blogspot.com/2019/10/pengertian-manajemen-sekolah.html?m=1


Kamis, 08 April 2021

Magang 1-Kultur Sekolah-

 Kultur Sekolah

Di dalam dunia perkuliahan, khususnya Fakultas Tarbiyah yang akan menjadi seorang pendidik tentunya akan mendapatkan bekal untuk terjun langsung ke dalam dunia pendidikan. Dalam hal ini, terkait masalah sorang pendidik tidak akan luput dari yang namanya “Kultur Sekolah”. Nah, dalam pendidikan atau sekolah terdapat beberapa hal yang akan menjadi pedoman dalam mengarungi sebuah pendidikan. Salah satu diantaranya adalah, Kultur Sekolah. Kultur Sekolah ini bisa juga kita kenal dengan Budaya Sekolah. 

Mengutip dari jurnal Ariefa Efianingrum (2013:23) yang berjudul “Kultur Sekolah”, beliau mengemukakan bahwa Budaya Sekolah merupakan himpunan norma-norma, nilai dan keyakinan, ritual dan upacara, serta simbol dan cerita yang membentuk pesona sekolah. Ariefa Efianingrum (2013:23)

 Sesuai dengan definisi Kultur atau Budaya adalah, satu kesatuan yang berbeda untuk mencapai suatu tujuan yang sama. Begitu juga dengan dunia pendidikan, Kultur Sekolah disini menyangkut keberagaman yang ada didalam  sebuah sekolah. Dari keberagaman itulah akan menghasilkan cita rasa yang diperoleh dalam berbedaan tersebut.

Tujuan dari adanya Kultur Sekolah ini adalah sekolah itu memiliki ciri khas atau pesona tersendiri yang melibatkan warga sekolah, termasuk Staf-staf, administrator, kepala sekolah, guru, siswa-siswi serta orang tua siswa/i. Dalam rangka merencanakan misi dan visi budaya sekolah tersebut, perangkat sekolah akan melakukan survei terdahulu untuk melihat kondisi yang terjadi pada sekolah. 

Dalam setiap sekolah tentu memiliki masing-masing ciri khas yang unik, hal demikian pula akan menjadikan sebuah untuk mencapai hasil baik pula. Untuk meningkatkan atau mengembangkan sebuah Kultur Sekolah, terdapat 2 tipe dalam melangsungkan pencapaian yaitu Prestasi Akademik dan Prestasi Non-Akademik. Dari kedua aspek atau tipe tersebut, sangat-sangat memungkinkan dalam pengembangan Kultur Sekolah. Hal ini dikarenakan, dalam diri peserta didik tentu sudah memiliki bakat dan minat yang bervariasi sehingga aspek Akademik maupun Non-akademik bisa bersama-sama untuk menciptakan Kultur Sekolah.

Menurut Ariefa Efianingrum (2013),  mengemukakan bahwa terdapat beberapa Kultur Sekolah yang dapat dikembangkan yaitu antara lain:

1. Prestasi Akademik

2. Prestasi Non-Akademik

3. Karakter, dan

4. Kelestarian Lingkungan Hidup

Dari keempat Kultur Sekolah menurut Ariefa Efianingrum (2013), itu akan menjadi patokan kita sebagai calon pendidik, bagaimana kita harus bisa menciptakan suatu hal yang baru melalui dari hal yang  berbeda.

Sumber Rujukan/Daftar Pustaka

Efianingrum Ariefa. 2013. Kultur Sekolah. (Jurnal Pemikiran Sosiologi: Volume 2 No, 1 Mei 2013


Minggu, 01 Desember 2019

Menulis Ulasan Buku

Nama : Sulastri
Kelas : 1/D
Prodi : Pendidikan Agama Islam(PAI)
Dosen Pengampu : Farninda Aditya, S.Pd., M.Pd.
Mata Kuliah : Bahasa Indonesia
Tugas Kuliah : Menulis Ulasan Buku


Judul Buku : ETNISITAS DI KALIMANTAN BARAT
Pengarang/Penulis : Pabali Musa, Dkk.
Penerbit : STAIN PONTIANAK PRESS
Tahun Penerbit beserta Cetakan : Juni 2005, cetakan pertama.

Buku ini menceritakan peristiwa etnis yang ada di Kalimantan Barat. Pertama, peristiwa yang berasal dari Sambas, kasus ini bermula pada tahun 1999. Pertempuran orang Melayu dan orang Madura. Asal muasal peristiwa ini adalah yang berasal dari daerah Kampung Rambayan dan Parit Setia (Munawar 2003).
Kedua, cerita yang berasal dari Pontianak yaitu Syarif dan Syarifah yang berasal dari keturunan  Bangsa Arab.
Ketiga, fenomena Kedayakan-Kemelayuan di Kalimantan Barat tergambar jelas pada buku ini.
Keempat, asal usul terjadinya sungai yang bermuara di Sungai Kapuas sekitar 20 km di Hilir Muara Sekadau. Tafsiran berlandas geografi perjalanan Sungai  tersebut ("Manawas" dibangdingkan "Benawas"), kemudian kunjungan Youngblood dan Nevius ke tempat keramat, yaitu "Batu Tapa".
Dalam buku ini, adapun kelebihan dan kekurangan.
Kelebihan buku ini adalah sebagai berikut:
1. Judul buku mampu memikat pembaca untuk lebih serius dalam membaca buku ini.
2. Sumber-sumber atau penguat dari pendapat sangat jelas.
3. Disetiap bab disertai daftar pustaka yang membuat pembaca lebih gampang mengetahui sumbernya.
4. Bahasa yang digunakan mudah dan dapat dipahami.
Kekurangan buku ini adalah sebagai berikut:
1. Sedikitnya bahasa daerah yang terdapat dalam buku tersebut.
2. Kurangnya gambar yang terdapat pada buku.

Setiap kekurangan pasti ada kelebihan, begitu pula sebaliknya.
Buku ini ada kelebihan dan kekurangan. Hal ini tersebut akan menjadi bahan perbaikan untuk cetakan buku ke berikutnya.






Selasa, 05 November 2019

Life Style Generasi Millenial

ZAKAT GOES TO CAMPUS FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS TANJUNGPURA 2019

”LIFE STYLE GENERASI MILLENIAL”

DIUSULKAN OLEH: 
SULASTRI 
NIM: 11901285



INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI 
PONTIANAK
2019 

LIFE STYLE GENERASI MILLENIAL
Oleh : Sulastri

Dengan dinamika semakin berkembang, generasi millenial mampu untuk berkreasi dalam bidang  kemanusiaan yang sejahtera. Menciptakan semangat baru serta memotivasi suatu keadaan yang tidak layak menjadi layak. Dengan demikian segala harapan berada di tangan generasi millenial. Generasi millenial yang berjuang bukan semata-mata untuk mendapatkan uang banyak. Tapi, pengalaman dan pengetahuanlah yang menjadi paling dasar dalam pengabdiannya. Dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi tidak akan membuat generasi millenial buta hati dalam sebuah kebaikan, justru sebaliiknya jika teknologi informasi cepat berkembang mengikuti zaman, maka semakin cerdas generasi millenial mengembangkan suatu pemikiran.
Seiring dengan berjalannya sebuah rotasi kehidupan dari masa ke masa. Banyak kemungkinan pada umur yang terbilang masih muda belum sepenuhnya mempunyai rasa simpati terhadap orang yang jauh dari kata kurang mampu. Kurangnya kesadaran terhadap orang disekelilingnya yang ingin dikasihani dengan sebuah keikhlasan murni tanpa campur tangan orang lain. Hal ini menunjukkan sebuah pengajaran yang begitu berharga bagi kita, ketika ada rasa simpati disaat ada yang membutuhkan bantuan kita. Saat ini perubahan gaya hidup yang konsumtif sangat terlihat pada generasi modern. Konsumtif adalah gaya hidup online yang sepertinya sudah menjadi bagian dari jiwa seorang millenial. Tapi, tidak semuanya generasi millenial itu bersifat konsumtif dan itu bisa disesuaikan dengan kepribadiannya masing-masing.
Life style generasi milenial  sesuatu yang tidak bisa dipisahkan. Secara harfiah, life style generasi millenial berarti gaya hidup generasi muda. Life style (gaya hidup) merupakan satu dari beberapa sumber sebuah kehidupan yang mempunyai keragaman terhadap diri sendiri maupun orang lain. Life style juga bisa dikatakan sebagai jati diri yang mempunyai cara tersendiri dalam berkreasi. Akan tetapi, life style tidak akan pernah bisa lepas dengan namanya generasi millenial dan generasi millenial merupakan generasi modern yang hidup dipergantian masa. Secara bersamaan di era globalisasi, teknologi digital mulai merasuk ke segala sendi-sendi kehidupan manusia khususnya generasi milenial.
Generasi millenial adalah generasi muda,  atas dasarnya dari hasil itu dapat dikatakan bahwa generasi millenial ialah generasi global pertama yang nyata. Teknologi tinggi dalam darah mereka. Generasi millenial juga mempunyai banyak keunggulan dibanding generasi sebelumnya. Generasi millenial memiliki ciri khas anak muda yang aktif dan menyukai tantangan dalam mewujudkan mimpinya. Mereka juga bekerja bukanlah hanya untuk mencari uang, namun proses belajar  untuk mencari pengetahuan, pengalaman, relasi dan kesempatan dalam keberlangsungannya sebuah kehidupan nyata tanpa rekayasa.
Dengan  demikian, sebagai generasi millenial harusnya kita mempunyai kesadaran tentang hal berbagi. Misalnya berzakat, karena zakat merupakan rukun Islam yang ke-4. Zakat artinya mengeluarkan sebagian  harta. Ketika berzakat harta kita tidak akan pernah mengurang melainkan menambah.
Allah berfirman: ”Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi kalian sendiri” (QS.Al-Isra’:7).
Pada saat ini kita berada di bawah Negara Kesatuan Republik Indonesia, semboyan kita yaitu Pancasila. Pancasila merupakan inti dari kehidupan yang menjadi pedoman bagi berbangsa dan bernegara. Pancasila juga suatu bukti nyata perjuangan  pahlawan Indonesia yang pada saat itu bersusah payah untuk merumuskan Pancasila hingga saat ini generasi milenial menikmati hasil dari perjuangan tokoh bangsa. Sudah sepatutnya kita sebagai generasi milenial yang suatu saat akan  membangun Indonesia kaya akan kemandirian tanpa meminta belaskasihan terhadap negara luar yang bersimpati terhadap permasalahan yang ada di negara kita ini. Generasi milleniallah yang akan  merubah segala-galanya, baik dalam segi pertumbuhan sosial maupun ekonomi.

Abu Malik Al-Harits bin ‘Ashim Al-Asy’ari r.a. berkata, bahwa Rassullah Shallahu’alaihi Wassalam bersabda, “Kesucian itu sebagian dari iman, dan kalimat Alhamdulillah memenuhi timbangan. Kalimat Subhanallah dan Alhamdulillah memenuhi ruang yang ada di antara langit dan bumi. Shalat itu cahaya, sedekah itu bukti, sabar itu cerminan, Al-Qur’an itu hujjah yang akan membela atau menuntutmu. Setiap manusia bekerja. Ada yang menjual dirinya, ada yang mnembebaskan dirinya, dan ada pula yang menghancurkan dirinya”. (HR.Muslim).
Rasulullah Shallahu’alaihi Wassalam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain“ (HR.Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289). Yang menunjukkan bahwa  Rasulullah Shallahu’alaihi Wassalam menganjurkan umat islam selalu berbuat kebaikkan terhadap orang lain dan makhluk lainnya. Hal ini menjadi indikator seorang mukmin yang sebenarnya. Setiap perbuatan maka akan kembali kepada orang yang berbuat. Namun, tidak menutup kemungkinan  pada dasarnya generasi millenial itu adalah seseorang yang memiliki perilaku konsumtif melainkan seorang generasi yang menyukai tantangan  dalam mewujudkan mimpi.
Menurut Handayani dalam bukunya yang berjudul “Alhamdulillah, Aku Diuji” (2018:5) mengatakan “Tatkala rezeki berlimpah  dalam fase ini, diri sering terlalu naif dan egois. Merasa bahwa itu adalah hasil jerih payah sendiri tanpa campur tangan Allah Sang Maha Pemberi Rezeki. Merasa paling hebat dan mampu mendiri”. Dari sinilah  dapat disimpulkan, bahwa manusia lupa diri kepada Sang Pencipta tatkala diuji dengan kesenangan. 
Diluar sana masih banyak yang nasibnya kurang beruntung dibanding kita. Maka dari itu, ringankanlah tangan dalam sebuah kebaikan. Senyum mereka adalah kebahagian kita. Hindari sifat boros yang suka membeli barang tanpa adanya sebuah perencanaan. Jika perilaku tersebut tidak diimbangi dengan rasa kesadaran, maka terjadilah sifat boros pada generasi. Allah SWT akan melaknat apabila ada umat Islam yang bersifat boros, karena boros itu adalah temannya syaitan.


Allah berfirman: “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemborosan itu adalah saudara-saudara syaitan”. (QS.Al-Isra’:26-27). Yang termasuk perbuatan boros (tabdzir) adalah apabila seseorang menghabiskan harta pada jalan yang keliru. Misalnya seseorang berjam-jam duduk di depan internet, kemudian membuka  Facebook, WhatsApp, You-Tube dan lain-lainnya dengan tujuan yang tidak  jelas atau unfa’edah. Inilah tanah air berduka pada zaman era globalisasi ini,  generasi yang seharusnya tumbuh besar untuk menjadi kebanggaan bangsa telah berubah menjadi sampah masyarakat yang mungkin saja tidak terpakai oleh masyarakat. Namun, tidak semuanya mempunyai perilaku tersebut, tapi itu akan menjadi tolak ukur kita mau dibawa kemana bangsa ini . Hal semacam ini, harus ada dorongan dari orang tua maupun pemerintah atas keberhasilan suatu generasi.
Ir.Soekarno berkata, “seribu orang tua bisa bermimpi, satu orang pemuda bisa mengubah dunia”, betapa berpengaruhnya pemuda-pemudi untuk dunia maupun akkhirat. Tidak ada kata terlambat untuk mengubah diri akan lebih baik. Sebagai life style generasi millenial, pada generasi ini  teknologi informasi tidak akan bisa dipisahkan dari sendi kehidupan saat ini. Oleh karena itu, agama harus selalu tertanamkan dan turut serta dalam perannya agar teknologi informasi digunakan sebaik mungkin. Sebagai umat Islam sudah sewajarnya kita memperdalam hal tersebut. Sudah saatnya life style  generasi millenial untuk membuka mata dan meringankan tangan dalam berbagi kepada seseorang yang menyandang kaum Dhuafa.
Rasulullah Shallahu’alaihi Wassalam bersabda: “Barang siapa yang memudah kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitan pada hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang dalam kesulitan niscaya akan Allah memudahkan baginya di dunia dan akhirat” (HR.Muslim).
Siapa yang tidak mengenal zakat, salah satu rukun Islam yang berhubungan dengan kesejahteraan umat. Tentunya  seluruh umat  muslim mengetahui hal itu. Namun,  jika ditanya  syarat dan cara menunaikannya  belum tentu seluruh muslim memahaminya. Di sisi lain, cepatnya perkembangan teknologi membawa gaya hidup serba cepat dan mudah. Kemudahan itu harus dimafaatkan untuk hidup bersosial melalui zakat.
Allah berfirman: “Dan laksanakanlah sholat, tunaikanlah zakat , dan rukuklah beserta orang yang rukuk “ (QS Al-Baqarah:43). Kewajiban zakat bersanding dengan kewajiban sholat. Hal ini membuat perintah zakat tidak boleh dipandang sebelah mata. Kewajiban tetap kewajiban. Karena sesungguhnya dalam harta orang kaya, Allah menetapkan sebagian hak para faqir (QS Az-Dzariya:19). Maka sudah jelas, hikmat zakat selalu bergandengan dengan kekuatan ekonomi.
Dengan demikian generasi millenial sebagai contoh anak muda yang memiliki berbagai kreatifitas tanpa batas dalam mewujudkan bangsa dan negara  ke arah lebih baik. Generasi ini juga mampu membentuk kepribadian yang lebih peka terhadap lingkungan disekitarnya. Seseorang dikatakan sukses apabila dia sudah bermanfaat dalam kebaikkan bagi orang lain. Dunia hanya sementara dan akhiratlah yang sangat kekal. Maka dari itu agama bagi kehidupan sangat berpengaruh. Dengan menanamkan Islam dan Iman dalam diri, kemudian di aplikasikan lewat sebuah kebaikan maka semuanya tidak akan pernah sia-sia  serta jiwa patriotisme yang terkandung di dalam nilai-nilai Pancasila harus diamalkan. Generasi millenial harus bisa mengamalkan rukun-rukun Islam. Terutama pada rukun Islam yang ke-4, yaitu zakat. Hal ini dikarenakan zakat bisa menjadi life style bagi generasi millenial.

Kamis, 10 Oktober 2019

Resume Sistematika Penulisan Skripsi Mahasiswa pai/ftik


RESUME SISTEMATIKA
PENULISAN SKRIPSI
MAHASISWA/I  PAI/FTIK
IAIN PONTIANAK

NAMA : SULASTRI
NIM : 11901285
KELAS : I/D



KORELASI ANTAR HASIL BELAJAR AQIDAH AKHLAK DENGAN PERILAKU KONSUMTIF SISWA KELAS VI DI MADRASAH IBTIDAIYAH AL RAUDHATUL ISLAMIYAH PAL IX KECAMATAN SUNGAI KAKAP TAHUN PELAJARAN 2017/2008


SKRIPSI
OLEH :
NURLINA
NIM: 1061108572


MOTTO :
Barang siapa yang berbuat sesuai dengan petunjuk Allah, maka dia berbuat untuk keselamatan dirinya sendiri, dan barang siapa yang tersesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi kerugian dirinya sendiri “. (Q.S.AL-ISRA’:15).
ABSTRAK :
Penilaian ini berjuduk, “Korelasi antara Hasil Belajar Aqidah Akhalak ndengan Perilaku Konsumtif Siswa Kelas VI di Madrasah Ibtidaiyah Al-Raudhatul Islamiyah Pal IX Kecamatan Sungai Kakap Tahun Pelajaran 2007/2008”.
Sesuai judul tersebut maka masalah penelitian ini dapta dirumuskan dalam pertanyaan umum yaitu, “ Bagaimana korelasi antar hasil belajar Aqidah Akhlak dengan perilaku konsumtif sisiwa kelas IV di Madrasah Ibtidaiyah Al-Raudhatul Islamiyah Pal IX Kecamatan Sungaii Kakap Tahun Pelajaran 2007/2008”.
Masalah penelitian tersebut di atas dilatarbelakangi adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan, yaitu kita mengharapkan seorang sisiwa yang mendapatkan hasil belajar Aqidah Akhlak yang tinggi seharusnya tidak berperilaku konsumtif, namun kenyataannya ada saja siswa yang berperilaku konsumtif, seakan-akan pengetahuan yang dimilikinya tidak diserapi, dijiwai, dipedomani, dan tidak diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Berkaitan dengan hal di atas makan tujuan utama penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran dan kejelasan tentang korelasi hasil belajar Aqidah Akhlak dengan perilaku konsumtif siswa kelas VI di Madrasah Ibtidaiyah Al-Raudhatul Islamiyah Pal IX Kecamatan Sungai Kakap Tahun Pelajaran 2007/2008.
Untuk mencapai tujuan di atas, maka pendekatan penelitian yang dipilih adalah pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif. Sedangkan pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumenter dan komunikasi tidak langsung dengan alat berupa angket. Adapun untuk menganalisis data digunakan rumus mean dan analisis angka indeks korelasi “r” Product Moment.
Hasil penenlitian ini menunjukkan bahawa hasil belajar Aqidah Akhlak siswa kelas VI di Madrasah Ibtidaiyah Al-Raudhatul Islamiyah Pal IX Kecamatan Sungai Kakap Tahuhn Pelajaran 2007/2008, dengan nilai rata-rata 63 termasuk klasifikasi cukup. Sedangkan perilaku konsumtif sisiwanya dari perhitungan nilai rata-rata angket sikapnya 37 yang tergolong sedang.
Selanjutnya dari hasil perhitungan dengan teknik analisis angka indeks korelasi “r” Product Momentmenunjukkan bahwa terdapat korelasi  Aqidah Akhlak siswa kelas VI di Madrasah Ibtidaiyah Al-Raudhatul Islamiyah Pal IX Kecamatan Sungai Kakap Tahuhn Pelajaran 2007/2008  dengan bukti “r” hasil perhitungan adalah -0,046 lebih kecil dari “r”  tabel yaitu 0,413. Sedangksn tingkat korelasinya berada pada rentang 0,00 – 0,20 yang berarti sangat lemah  atau sangat rendah.





DAFTAR ISI

Halaman
ABSTRAK .................................................................................................................................i
KATA PENGANTAR................................................................................................................ ii
    DAFTAR ISI.......................................................................................................................... iv
DAFTAR TABEL....................................................................................................................... vi
DAFTAR LAMPIRAN.......................................................................................................... vii
    BAB I    PENDAHULUAN....................................................................................................
A.    Latar Belakang Penelitian.............................................................................................1
B.     Masalah Penelitian.......................................................................................................4
C.     Tujuan Penelitian......................................................................................................... 5
D.    Manfaat Penelitian........................................................................................................6
BAB II   HASIL BELAJAR AQIDAH AKHLAK DAN PERILAKI KONSUMTIF...................
A.    Kajian Teori.................................................................................................................... 7
B.     Karangka Pikir...............................................................................................................21
C.     Hipotesis Penelitian...................................................................................................... 22
BAB III   METODE PENELITIAN.................................................................................................
A.    Pendekatan,Metode, dan Bentuk Penelitian ..................................................................23
B.     Tempat dan Waktu Penelitian........................................................................................ 24
C.     Ruang Lingkup Penelitian............................................................................................. 25
D.    Populasi Penelitian........................................................................................................ 26
E.     Teknik dan Alat Pengumpulan Data.............................................................................. 27
F.      Analisis Data..................................................................................................................28
BAB IV   PAPARAN DATA, ANALISI DATA, DAN PEMBAHASAN.........................................
A.    Gambaran Umum Lokasi Penelitian ..............................................................................29
B.     Prosedur Analisis Data...................................................................................................32
C.     pembahasan.................................................................................................................... 43
BAB V    PENUTUP..........................................................................................................................
A.    Kesimpulan.....................................................................................................................47
B.     Saran.............................................................................................................................. 48
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................................49
LAMPIRAN-LAMPIRAN.......................................................................................................... 52





KUTIPAN :
1.   Kemudian Yusuf al-Qardawi dalam Abuddin Nata (2004:85) mengatakan bahwa Aqidah atau iman menurut pengertiannya sebenarnya ialah kepercayaan yang meresap dalam hati dengan penuh keyakinan, tidak bercampur syak dan ragu, serta memberi pengaruh bagi pandangan hidup, tingkah laku dan perbuatan sehari-hari.
2.    Menurut Thoyib Sah Saputra dan Wahyidin (2004:30) “Akhlak” berasal dari bahasa Arab “Akhlak” yang merupakan bentuk jamak dari”khuluq”. Secara bahasa “Akhlak” mempunyai arti budi pekerti, tabi’at,watak. Dalam kebahsaan akhlak sering disinonimkan dengan moral,etika.
3.    Seiring pendapat di atas menurut Asmaran As (2002:1)  dilihat dari sudut bahasa (etimologi) perkataan akhlak (bahasa Arab) adsalah bentuk jamak dari kata khuluq, khuluq di dalam kamus Al-Munjid berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat.
4.  Demikian juga halnya dengan pendapat Emil Salim dalam Andi Hakim Nasution, dkk (2002:117) Akhlak adalah prilaku yang bersumber pada wahyu dan berkembang menurut pendidikan tentang masalah dunia dan akhirat.
5.    Menurut Abdullah Gymnastiar (2005:7) puncak derajat kemanusian seseorang dinilai dari kualitas akhlaknya. Bahkan kualitas keimanan pun diukur dari akhlak.
6.     Hal ini lebih dipertegas oleh Ibnu Maskawaih dalam Sirajuddin Zar (2004:135) mengatakan bahwa ahklak yang tercela bisa dirubah menjadi akhlak terpuji dengan jalan pendidikan (tarbiyah al-akhlaq) dan latihan-latihan.
7.   Menurut Syamsul Bahari Djamarah (1994:19) presentasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan atau diciptakan secara individu maupun secara kelompok.
8.   Selanjutnya menurut Syaifudin Azwar (1988:8) hasil belajar atau prestasi belajar adalah performa maksimal seseorang dalam menguasai bahan-bahan atau materi yang telah diajarkan atau telah dipelajari.
9.  Berkaitan dengan pendapat tersebut, menurut Sri Esti Wuryani Djiwandono (2002:397) Evaluasi atau penilaian berarti suatu tindakan untuk menentukan nilai sesuatu.
10.  Menurut Wiwik DH dan Retno Kuning D.P (2007:34) konsumerisme adalah sikap orang-orang yang cenderung memakai alat atau memiliki benda-benda tertentu demi mendapatkan genggi atau prestise tertntu.


DAFTAR PUSTAKA

Abuddin Nata.(2004).Metodologi Studi Islam. Jakarta:PT.Raja Grafindo Persada.

Thoyib Sah Saputra dan Wahyudin.(2004).Aqidah Akhlak Untuk MA Kelas I. Jakarta:PT. Karya Toha Putra.

Asmaran As.(2002).Pengantar Studi Akhlak. Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada.


Andi Hakim Naution,dkk (2002).Pendidikan Agama dan Akhlak bagi Anak dan Remaja.Jakarta :PT Logos Wacana Ilmu.

Abdullah Gymnastiar (2005).Keluarga Kaya Hati.Bandung: PT Senibudaya Sejahtera Offset.

Sirajuddin Zar.(2004.Filsafat Islam.Jakartaa:PT. Raja Grafindo Persada.

Syamsul Bahri Djamarah.(1994).Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru.Jakarta:Rineka Cipta.

Syaiful Azwar.(1988).Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya.Yogyakarta:Pustaka Pelajar.

Sri Esti Wuryani Djiwandono.(2002).Psikologi Pendidikan.Jakarta: Grasindo.

Wiwik D.H. dan Retno.(2007).Sosiologi. Solo: Sindhunata.